Kisah sejati- Kekuatan Sedekah
Bismillahirahmanirahim..
Mata kuliah research dari dosen Muda sir Ivan baru saja selesai, intensitas bola raksasapun semakin tinggi, bahkan
hampir saja membakar kulitku. Aku berjalan
kaki menuju Toko buku “Books' Talk” membeli beberapa buku special aku hadiahkan untuk adik sepupuku
miftahuljannah serta melunasi janjiku kepada adikku
Wahyu tri permana untuk mengirimkan dia buku di cakung barat Jakarta Timur.
Pada saat aku membayar bukunya dikasir , seorang ibu yang sudah tua rentah mendekat padaku menawarkan jualannya kacang rebus. Sontak aku mengatakan “belum
bu.., jalan dulu.” Sambil bergumam dalam hati :“ah kalau aku beli kacang nanti uangku berkurang karena sebentar aku akan melanjutkan perjalananku kepesantren hubulo membayar SPP adikku, tempatnya lumayan jauh dan tentu tarif untuk kesana juga sedikit mahal Rp20.000, kalau aku beli kacangnya nanti uangnya berkurang, sedangkan uangku pada saat itu pas-pasan, ngapain beli kacang, nda berminat”.
Setelah itu sang ibu tetap saja berdiri dihadapanku dengan wajah memelas,
berharap agar aku mau membeli kacangnya. Aku pura-pura tak melihatnya,
pun menghiraukannya, Aku menjauh darinya perlahan-lahan , kemudian ku segera pergi dari tempat itu, tapi anehnya hatiku merasa tak tenang ketika meninggalkan ibu tadi, dalam diam ketika aku berjalan tiba-tiba ada bisikan kecil memasuki relung hatiku mengatakan“ teganya kau Muth,
kenapa kau tak membeli kacang
rebus punya ibu tadi, kamu lebih mementingkan keperluanmu ketimbang menyedekahkan sebagian uangmu untuk kebutuhan hidupnya, orang seperti itulah yang pantas dikasihani ketimbang peminta-peminta yang masih bertubuh kekar, kuat, tapi tidak mau berusaha.”
Aku menghentikan langkahku dan berbalik kebelakang untuk menemui sang ibu tadi, Seketika terlintas dibenakku firmanAllah :“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan dari pada-Nyadan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ” [Al Baqarah 268] .
“astagfirullah, ya salaam…” Segeraku cepatkan langkah kumenemui sang
ibu tadi, Alhamdulilah dia masih ditempat itu dengan wajah teduh dibanjiri keringat ,kemudian kukatakan padanya aku mau beli
5ribu. “Bu, saya beli kacangnya 5 ribu , kembalian nya ibu ambil”. Wajah ibu tadi seketika memancarkan senyum
sumringah, mungkin karena dia senang aku mau membeli kacangnya.
Setelah itu aku
pulang melanjutkan perjalananku dengan jalan kaki menikmati polusi udara dikota Gorontalo. Dalam perjalanan pulang otakku berfikir mau diganti dengan apa sewa bentorku menuju Pondok pesantren nanti, bulan ini jatah jajanku agak beda dari bulan sebulannya karena kedua orang tuaku semalam dibawa kedokter ahli THT dan saraf, dan tentunya sedikit menguras dompet orang
tuaku, sementara hasil jualan roti
bakarku masih dipinjam oleh sahabtku untuk memenuhi kebutuhannya, aku pun tak jualan karena tempat pemanggangnya juga dah dibawa sama sepupuku kemenado.
Hmm akhirnya aku sampai dirumah kos, tempat tinggalku sementara. kuberanikan diri untuk meminjam uang dengan sedikit canggung kepada tuan kos, untung aja ibu kosnya dermawan. iyalah secara dia adalah tanteku. Segera aku panggil bentor (becak motor) manaikinya menuju pondok pesantren hubulo.
Tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Gorontalo. Bola mataku tiba-tiba mengeluarkan butiran Kristal dengan malu-malu membasahi kelopakku. Entah apa yang kurasa, sontak mataku terpana pada seorang anak kecil dan kedua orang tuanya yang sementara bermain bersama air , ingatanku langsung pada adikku Nuriman dipondok, juga kedua orang tuaku
yang sementara sakit diseberangsana. Segeraku berdoa mereka, karenaku tahu berdoa saat hujan derasakan maqbul doanya .
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al
Albani di Shahih Al Jami’, 3078)
Akhirnya aku sampai juga dipondok pesantren Hubulo, tempat adikku menuntut ilmu, kutemui ustadnya diasrama ikhwan untuk membayar SPP nya bulan desember, kemudian ku meminta izin untuk bertemu dengannya. Dalam hati aku menangis ketika kulihat dia dari jauh menyambutku dengan suka cita dibaluti rasa rindu yang ingin segera berlari mendekapku.
Dia pun menyalami tanganku dengan kecupan cinta sang adik kepada kakaknya yang baru saja bertemu.
Namun setelah didekatku dia melempariku pertanyaan yang sulit kujelaskan “Umy mana? Kenapa nda datang?Kk jalan sama siapa? Kok sendirian?” Aku berusaha menahan tangisanku dalam hati yang semakin membuncah , aku tak mampu tuk berkata-kata,
ayahku tadi telvon ibuku sekarang sementara terbaring lemas ditempat tidur, tapi takku katakana padanya, karenaku takut akan menggangu kosentrasinya untuk ujian. Kubilang saja ibu semalam kedokter tapi sudah balik keboalemo pukul 2.30.
Ibu titip salam buatmu. Segeraku alihkan pembicaraan menanyakan kabarnya, dan memberikan uang jajannya.Tapi adikku malah mengembalikan uangnya, aku bingung penuh tanda Tanya, ada apa?
Dan kenapa dia tak mau mengambilnya,“
Kak, iman dapat beasiswa prestasi, tadi uangnya Cair, ini uang untuk umy, dan kakak “
Aku semakin tak bisa berkata-kata,
seakan tak percaya apa yang dia katakan tadi, uang itu segera digenggamkan padaku sejumlah
400ribu, ya Allah.., ya Rabb..“
Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan”, entah kebetulan atau keajaiban aku merasa inilah janji Allah yang difirmankan dalam Al-Qur’an :
“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir,
pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa
yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al
Baqarah 261)
Jujur diriku diselimuti
rasa takjub yang tak bisa ku gambarkan dengan kata-kata, tiba- tiba aku teringat Uang 20ribu ku yang ku belikan kacang rebus ditoko buku tadi segera diganti oleh Allah dengan 400 ribu melalui beasiswa adikku.
Ya Allah.., tak henti-hentinya ku menangis dalam hati mensykuri nikmat yang diberikan oleh
Allah swt padaku. Kumerasa mendapaatkan durian runtuh, karena sisa uangku tak cukup untuk sebulan lagi. Betapa harunya aku pada saat itu,
kuhanya bisa mengekspresikan melalui bahasa hati
dan linangan doa dalam sujud . Hatiku merengek-rengek seperti anak kecil yang barusan di belikan permen oleh ibunya
Segera aku tadaburi Ayat Alqur’an
surah saba ayat 39 Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)".
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(Q.S
Saba : 39)
Rasulullah saw juga menegaskan satu hadis qudsi
:“ Allah berfirman: “ Wahai anak adam ! infakkanlah hartamu , Aku akan menambah hartamu”( HR.AbuHurairah ).
Jujur malam ini aku tak habis pikir dengan apa
yang ku alami hari ini. Dari sini aku mengambil hikmah dikala susah sekali pun jangan pernah tinggalkan sedekah, karena sedekah bisa membawa berkah dan menambah rezeki, sebagaimana kata Ali bin
abithalib “ sedekah itu adalah pemancing rezeki” Malam iniku ingin mengabadikan kisah ku dalam deretan tulisan yang tak beraturan, sungguh telahku buktikan bahwasanya pertolongan yang datang dari Allah
kepada seseorang sebanding dengan pertolongan
yang kita lakukan, bahkan Allah
akan memberikan kita lebih dari yang tidak kita sangka.
Janji Allah pasti benar! hampir saja aku terbuai dengan janji syetan..,
to give in order to get…
Muhasabahku, Gorontalo,
23.30
Good night.
(Muthmainnah Nasaru.)








0 komentar:
Posting Komentar