DESEMBER KELABU
Desember 2010 Kembali ku meloncat-locatkan jari lentikku bersama alunan suara penggugah jiwa . sendiri dalam sepi ,tak ada satupun yang menemani, hanya aku dan bayangan.
Perasaan yang tak kumengerti mengapa ada rasa ini…, aku merasa sedang berada dalam himpitan gua yang gelap yang serasa akan merobohkan wujudnya dikepalaku.
Astagfirullah…,sejenak ku bermuhasabah.
Terdiam dan termangu…., butiran air jatuh perlahan-lahan membasahi wajahku…,
***
“Ta’liful qulub” istilah yang aku dapatkan dari seorang murobbiyahku di mentoring yaitu kontak batin atau keterikatan hati antara seseorang dengan saudaranya yang memiliki jarak entah jauh atau dekat, dan biasanya itu terjadi pada orang-orang yang memiliki ukhuwah yang kuat, memiliki fiqroh yang sama ataupun persamaan lainnya.
***
Nada deringku berbunyi,Satu pesan diterima dari saudaraku. Mengungkapkan kerinduannya, karena sudah beberapa pekan kita belum ketemuan, dia pun bilang bahwa perasaannya tidak enak, sepertinya dia merasakan apa yang aku rasakan, air mataku semakin menderas mendapatkan sms darinya, karena pada saat itu aku sangat membutuhkannya untuk berbagi dengan apa yang aku rasakan sekarang. Tadinya aku sudah mengetik pesan singkat untuknya mengungkapkan kerinduan serta kepedihan yang aku rasakan ,tapi smsnya yang duluan masuk. Disitu aku berpikir inikah yang dinamakan keterikatan hati…,
Aku pun segera mereply smsnya ,namun Sejenak ada yang berbisik dalam relung hatiku “ah kamu ni cengeng,gitu aja mau diceritakan ma orang…kamu harus bisa merahasiakan masalah ini,serahkan semuanya pada Allah Swt…,bercurhatlah padaNYA,”
Aku pun mengurungkan niatku untuk menceritakan padanya, usahlah ada yang tau tentang hal ini, karena ini adalah privasiku.
***
Jarum jam menunjukan pukul 18.00, waktunya sholat magrib untuk wilayah gorontalo. Segera kumelangkahkan kaki menyeru panggilanNYA untuk merangkak memeluk bumi.
***
Terdiam dalam pikir,aku bingung mabit dimana aku malam ini, suasana hatiku lagi tak meneginginkaknku mabit ditempat ini, karena jika aku sendirian mabit disini aku hanya akan terkena penyakit hati dengan mereka, sekalipun aku telah menghibur diri untuk melupakannya tetap saja terbayang dibenakku apa yang mereka lakukan padaku, makanya aku mengambil keputusan untuk tidak mabit ditempat ini agar perasaan jengkel dan emosiku lenyap jika tidak berhadapan dengan mereka.
Lagi-lagi butiran air jatuh dari pelupuk mataku,kuberusaha untuk menahan agar tak keluar tapi akhirnya tak terbendung juga, akankah hatiku mudah layu?? Terlalu sensitifkah seorang muthmainnah?sehingga kata –kata apapun yang dilontarkan padanya akan membuatnya layu dan berlinang???
Dan ternyata alam pikirku membawa hayalanku pada dua orang yang sangat aku cintai setelah Allah dan Rasululah Saw.., umiiy dan abiiy . ku ingin berada ditengah-tengah mereka, ku ingin mereka tau apa yang dirasakan anaknya sekarang…,kuingin dalam dekapan dan pangkuan mereka, air mataku semakin tak bisa dibendung.., segera ku sms umiiy…., “Umiiy…, muthy rindu….,muthy lagi butuh umiiy…,ty sekarang lagi berlinang..,tolong beri penguatan pada anakmu,ty ingin pulang ke boalemo,tapi ty nda dapat libur umi.., ty nda tahan disini umiiy”
segera ku kirim pesan singkat itu dengan linangan air mata.
Umiy pun membalas pesanku, yang isinya “ jangan bagitu eyi,umiiy suka ti muti itu tegar terus..,lia ti gledis biar depe mema setinggal dia tetap tegar trus, bahkan dia sanggup memberikan sambutan. Hilangkan itu perasaan bagitu ei, harus tegar! Pintar-pintarlah menyikapi masalah. Badai pasti berlalu.”
Setelah membaca sms umiiy aku merasa baru saja menyantap suplemen yang terhebat untuk mengatasi penyakit hatiku yang kini telah membuang waktuku . kata umiiy, aku harus pintar menyikapi masalah , aku disuruh belajar ketegaran dari kakak seniorku yang bernama gledis, ibu gledis dan umiku adalah teman dekat, dan kemarin ibunya baru saja meninggal dunia, tapi gledis sangat tegar…,dia tidak berlarut2 dalam kesedihan seperti aku yang hanya mengalami masalah yang mungkin tak sebanding dengannya yang telah kehilangan ibunya.
***
Kubangkit dari tempat tidurku, mempersiapkan alat sholat serta mushaf kecilku dalam tentengan hijauku, segera kupamit untuk mabit di RS Aloesaboe bersama oma , kubulatkan tekad untuk mabit disana,biar aku tidak tenggelam sendirian dalam kegundahan, lebih baik aku melayani oma yang sementara terbaring dalam sakit ketimbang membuang-buang waktu menangisi yang tak ada gunanya.
***
Melewati sawah-sawah yang indah dan asri menuju rumah sakit membuatku teringat seseorang ,air mataku kembali mengintip bola mataku, hmmm dasar muty cengeng! …
Jadi malu sama om bentor,mungkin dia melihatku yang tengah menikmati hamparan sawah sambil berlinang…,hhh
***
Sampainya dirumah sakit kembali ku merangkak memeluk sang bumi dan setelah itu kudekati oma yang sepertinya lagi ingin aku manjakan,dia memintaku agar duduk disampingnya sambil mengaji sebagai pengantar tidurnya. Aku pun melakukan hal itu sampai beliau tenggelam dalam mimpinya.
***
Hiruk pikuk anak adam telah kembali dalam peraduannya,sementara aku hanya terjaga dalam diam dibungkus perasaan yang bercampur aduk. Entah kenapa jari-jariku seakan mendesak untuk menanyakan kabar pada saudara-saudara seukhuwahku,aku pun mengirimkannya tetapi dari sekian yang aku sms,ada satu nomor yang membalasnya dengan aura yang tak mengenakan. Entahlah…,aku merasa sensitif…,padahal tadi ku telah mencoba menata hatiku, tapi hanya karena smsnya aku merasa malu,dan tidak ingin lagi menghubunginya.
***
Segera ku memojok disudut dinding…,berdiam diri sambil berlinang,,tiba-tiba aku baru saja mengingatnya bahwa dalam tas tentenganku ada buku bacaan yang sudah kusiapkan sebelumnya untuk aku baca di RS, buku itu belum aku baca,aku pun mengambil posisi yang nyaman untuk menikmati isi bacaan itu, ternyata dalam buku itu isinya sangat pas dan cocok untuk suasana hatiku pada malam itu, dalam buku itu yang sempat ku petik
“ada seorang pemuda yang menceritakan semua masalah yang membebani hidupnya. Sikakek menyimak dengan saksama . usai sang pemuda berkeluh kesah,lalu sikakek memasukan garam ke dalam sebuah gelas . “coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” .“pahit.pahit sekali!” seru sang pemuda.
Si kakek tersenyum melihat ekspresi tamunya. Diajkalah pemuda itu ke telaga yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Sesampainya di tepi telaga kembali sikakek menaburkan garam kedalam telaga. Lalu di aduklah air telaga dengan sebatang kayu.” Coba ambil air itu dari telaga ini, dan minumlah!”
Usai pemuda itu mereguk air telaga, si kakek bertanya “bagaimana rasanya?”
“segar”. Jawab pemuda tu. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu ?” Tanya si kakek lagi. “Tidak.” Jawab sang pemuda.
Ada pelajaran dari kisah ini yang dapat aku ambil hikmahnya. Ketika segenggam garam dimasukan ke dalam gelas , beda rasa airnya dengan segenggam garam yang dimasukan kedalam telaga. Air dalam gelas itu akan terasa sangat pahit dibanding air telaga . Pun demikian dengan hati dan masalah. Semakin besar hati kita,maka masalah yang dihadapi akan semakin ringan . semoga Allah melapangkan hatiku lebih luas dari telaga, dari laut dan dari samudra alam raya.Amin ya rabbal alamin.
catatan:
maafkan tiy sobat...,teman...saudaraku yang kucintai kerena Allah....
maafkan semua kesalahn tiy....,tiy terlalu sensitif menanggapi semua respon kalian semua...,tiy juga bingung kenapa bisa seperti ini....,maafkan tiy dah buat kalian marah,jengkel,kecewa,dan su'udzhon ..,,ada sesuatu yang aku tak ingin kalian mengetahuinya....,,ty minta maaf seandainya tiy sempat buat kalian tersakiti dan marah ke tiy...
selamat tinggal 2010.....
ku akan melangkah ......meniti jalanku yang kemarin sempat melenceng.....,
muthy sayang kalian semua.....
kalian tidak ada sangkut paut mengenai isi catatan ini, cuman tiy ingin berbagi saja karena kalian adalah saudara-saudara terdekatnya tiy yang sayangi karena Allah...,,,,
tiy sayang kalian semua......
.^_^.
Kisah
Read User's Comments(0)
Langganan:
Komentar (Atom)







